Perbedaan Redenominasi dan Senering

Akhir-akhir ini masyarakat dikhangatkan oleh wacana Bank Indonesia  untuk melakukan redenominasi rupiah. Berbagai kalangan sontak bereaksi, ada yang mendukung juga ada yang menolaknya.

Banyak kepanikan yang terjadi, banyak kalangan khawatir bahwa uang mereka akan menjadi tidak bernilai. Mereka beranggapan langkah ini akan seperti apa yang dilakukan oleh presiden Soekarno di tahun 1959. Uang-uang menjadi tidak bernilai seperti semula.

Nah senering inilah yang membuat berbagai kalangan menjadi panik.

Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution memang mengakui bahwa redenominasi membutuhkan biaya yang besar dan jangka waktu yang lama. Biaya terbesar paling banyak dipakai untuk langkah-langkah sosialisasi. Negara kita yang berpenduduk besar dan luas wilayah yang tidak kecil merupakan tantangan terbesar dalam sosialisasi. Tentu waktu dan biaya akan sangat lama dan besar.

Oke, sedikit penjelasan ini mungkin akan membantu BI untuk menysosialisasikan rencananya.🙂

Ada perbedaan Redenominasi dan Senering

ISTILAH
– Sanering berasal dari bahasa Belanda yang berarti penyehatan, pembersihan atau reorganisasi. Dalam konteks ilmu moneter sanering diartikan sebagai pemotongan nilai uang.

– Redenominasi adalah penyederhanaan penyebutan satuan harga maupun nilai mata uang dengan mengurangi jumlah digit, misalnya menghilangkan tiga angka nol dari Rp1000.000 menjadi Rp1000.

NILAI UANG
– Kebijakan sanering akan menurunkan atau mengurangi nilai uang. Nilai uang juga berubah dari sebelumnya. Misalnya, jika nilai uang Rp100 ribu dipotong menjadi Rp100. Karena nilainya sudah diturunkan, jumlah barang yang dibeli dengan uang baru akan lebih sedikit dibandingkan dengan uang lama. Jika Rp100 ribu lama bisa dapat satu baju, maka dengan Rp100 pecahan baru tidak bisa lagi mendapatkan satu baju yang sama.

– Redenominasi mengurangi jumlah angka nominal uang. Namun, nilai mata uang tetap sama meski angka nolnya berkurang. Misalnya, Rp1000 menjadi Rp1, sedangkan Rp1 juta menjadi Rp1000. Nilai uang juga masih tetap setara dengan harga semula. Misalnya, dengan Rp100.000 pecahan lama bisa mendapatkan satu baju, maka dengan Rp100 pecahan baru juga akan mendapatkan satu baju yang sama.

SITUASI
– Kebijakan sanering dilakukan dalam situasi ekonomi sedang bergejolak dan tidak stabil, khususnya terjadi inflasi sangat tinggi. Sehingga untuk mengatasinya, bukan harga barang yang diturunkan dengan menambah stok, melainkan nilai mata uangnya yang diturunkan.

– Kebijakan redenominasi dilakukan dalam kondisi ekonomi normal dan stabil. Inflasi juga sudah bisa dikendalikan dalam level tertentu. Karena itu, meskipun angka nominal uang dikurangi tidak akan berpengaruh terhadap inflasi.

TUJUAN
– Pada masa Soekarno, pemerintah melakukan sanering dengan tujuan untuk meredam inflasi yang tinggi, kendati akhirnya inflasi juga tetap dan semakin tinggi karena likuiditas di perbankan menjadi sangat ketat.

– Redenominasi dilakukan dengan tujuan untuk membuat esifien sistem pembayaran dengan menyederhanaan nilai nominal uang. Pembayaran dan pencatatan di toko-toko, restoran dan lainnya menjadi lebih sederhana karena jumlah digit lebih sedikit.

Jadi, apakah anda termasuk yang mendukung atau menolak rencana BI ini?

sumber : Vivanews, detik

Perbedaan Redenominasi dan Senering

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s